Perihnya Cerita Penduduk Asli yang Terpinggirkan

Old Singapura
Singapura Doloe

Teringat cerita orang-orang asli Singapura yang kemudian terpinggirkan, tergusur oleh orang-orang pendatang. Ceritanya sedih, memaksa kita bersimpati, dan terpaksa bikin kita membenci pendatang. Membenci orang-orang asing. Membenci ras dan golongan tertentu.

Tapi, pernahkah kamu menyadari dan bertanya,

Mengapa mereka tergusur?

Mereka tergusur karena tidak mampu mengantisipasi apa yang akan terjadi.

Mereka terlambat menyadari perubahan.

Mereka tidak bekerja keras sebelum itu terjadi.

Sekarang mereka hanya bisa menyesal.

Salahkah mereka? Siapa kamu berani menyalahkan orang lain!

Coba dengarkan ini...

Kantor Facebook yang sekarang berdiri megah di Silicon Valley, adalah kantor yang dulu digunakan oleh Sun Microsystem. Yaitu salah satu perusahaan teknologi terbesar di dunia.

Di bagian depan kantor Facebook itu, ada yang unik. Papan nama bertuliskan Facebook di depan kantor, ternyata di dibaliknya masih tersimpan tulisan "Sun Microsystem."

Kamu pasti bertanya-tanya, ‘kenapa tulisan Sun Microsystem tidak dirobohkan dan diganti dengan yang baru?’

Katanya sih, menurut boss Facebook, itu si Zuckerberg. Itu-tu buat ngingetin karyawan, yang kalau "mereka nggak bekerja keras" suatu saat bisa saja mereka bernasib sama seperti Sun Microsystem.

Sama seperti yang dialami oleh penduduk asli Singapura. Dan mungkin juga akan dialami oleh orang-orang yang mengaku pribumi di nusantara ini.

Facebook Logo and sun microsystem
Sun Microsystem behind Facebook Logo


Apakah itu artinya “pendatang” kejam?

Banyak orang berusaha untuk mengemukakan ide atau pikiran yang mereka punya. Nggak sedikit juga yang mencoba melontarkan kritik. Seolah-olah merekalah yang paling benar.

Padahal, kritik yang mereka lontarkan hanya sebatas tulisan yang kemudian dikomentari oleh orang-orang yang pro maupun kontrak.

Yang mendukung akan mendukung dan melebih-lebihkan. Mereka yang nggak setuju, akan nyinyir dan berusaha meng-counter.

Tapi pernah nggak kamu menyadari, kalau berbagai komentar dan kritik tersebut hanya sebatas tulisan-tulisan yang memenuhi wall di Facebook saja. Hampir bisa dipastikan tidak sampai ke orang yang dikritik. Yang sayangnya, bikin kritik-kritik ini berubah menjadi silent killer yang memecah belah persatuan dan persaudaraan.

Kalau kamu mau mengkritik. Pemerintah misalnya. Maka jadilah pemerintah. Jadilah orang yang bisa melakukan perubahan. Kamu nggak akan pernah bisa membuat makanan di piring masuk ke dalam mulutmu jika tanganmu terikat di belakang.

Kalau kamu mau mengkritik presiden, paling gak kamu harus jadi anggota DPR. Sebaliknya, kalau kamu mau mengkritik anggota DPR, setidaknya jadilah presiden agar didengar.

Tapi kalau statusmu hanyalah orang biasa. Cuma kawula alit. hehehe... kritik yang kamu keluarkan tidak lebih dari sebuah mobil keren yang ada di museum.

Dia boleh mahal tapi nggak bermanfaat. Dia boleh keren tapi tak berguna. Dia boleh saja berupa sebuah mobil. Tapi tak lebih dari sebongkah batu. Dia cuma pajangan. Nggak pernah mampu memberikan manfaat seperti yang dibayangkan dan dinginkan membuatnya dulu.

Kalau kamu pengen memberikan perubahan. Berikanlah perubahan yang positif. Ukur dirimu, ukur kemampuanmu, dan ukur efek yang akan diakibatkan oleh perbuatanmu.

Kalau kamu masih bukan siapa-siapa. Kalau kamu masih suka belajar setengah-setengah. Kalau kamu masih hanyalah seorang pemalas. Kalau ide-ide besarmu masih hanya sebatas gagasan. Kalo masih bangun aja kesiangan, dateng ke kantor terlambat, cuma bisa nyinyir tanpa solusi...

Kamu masih, “nggak lebih baik dari mutiara berkubang lumpur.”

#AYO!

Kalau kamu nggak mampu melakukan perubahan melalui dirimu. Jadikan anak dan cucumu orang-orang yang akan membuat perubahan. Didik mereka! Gembleng mereka! Nyalakan semangat di dalam dada mereka! Jangan manjakan mereka!

Sebelum semuanya terlambat dan hanya tinggal penyesalan... seperti cerita penduduk asli Singapura yang menyedihkan itu.

Komentar

  1. Asli baru tahu ini, Mas. Pelajaran nih.. :)
    Baru kesini apa ya aku..he
    Salam kenal ya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga bermanfaat buat kita-kita yang tinggal di negeri ini mas.
      Salam kenal juga...

      Hapus
  2. Aku juga baru tahu kisah ini. TFS ya. Buat pelajaran kita, penduduk pribumi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yup, semoga kita bisa mengambil i'tibar

      Hapus
  3. Ini pelajaran buat kita semua ya. Memang benar harus melakukan banyak perubahan sebelum terlambat. Baru tahu dengan kisah ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul mbak, kita kudu bisa membaca situasi dan memprediksi biar gag ketinggalan

      Hapus
  4. Waoow, tulisan yang menggugah dan memberi semangat. Patut disebar luaskan. Memberi semangat untuk bekerja keras!!! Ayooo, benar kata kamu! Jadi generasi penerus bangsa yang jangan bisanya koar-kora saja, hasilkan sesuatu untuk bangsa kita tercinta

    BalasHapus
  5. Halo.. salam kenal :)
    Semoga kita bisa bikin perubahan yang leih baik dong. Nggak harus nunggu anak cucu kita kan?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal juga mba...
      Betul, itu lebih bagus pastinya.

      Hapus
  6. Ya begitu lah mereka, saya pernah mengunjungi daerah-daerah pedalaman. Saya lihat kehidupan mereka sangat sederhana.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga kita tidak berakhir sepeti mereka Om

      Hapus
  7. Hal semacam inilah yang membuat orang merasa terpinggirkan karena tidak mampu menghadapi perkembangan jaman. Terlalu terlena dengan kenyamanan dan kemapanan. Manja, dan tidak mau bergerak. Makan maunya disuapin. Lebih parahnya lagi, ingin merubah keadaan dalam sekejab. terjadilah terorisme karena sudah frustasi.
    Pendidikan,kreatif, inovatif dan kerja keras biar bisa menguasai jaman.

    BalasHapus
  8. Good story, pelajaran yg bagus for us!

    BalasHapus

Posting Komentar