Kenapa Admin Server Profesional Masih Setia Pakai Debian di 2026?
Dulu kalau ngomongin server, pasti yang disebut nggak jauh-jauh dari “CentOS.” Tapi itu dulu lho ya. Sekarang kalau kita lihat-lihat di forum, mailing list, atau bahkan di grup Telegram sysadmin lokal, pasti kebanyakan yang disebut adalah “Debian.”
![]() |
| Ilustrasi Debian Server |
Yup! Kalau kita nggak ngikutin perkembangan server, mungkin perubahan ini nggak begitu terasa. Tapi kalau kita ngikutin perkembangan server, kita pasti bisa membaca polanya yang perlahan tapi pasti mulai bergeser dari CentOS ke Debian.
Mungkin nggak banyak yang menyadarinya. Tapi buat saya pribadi, pergeseran ini sangat terasa. Terutama, sejak CentOS 8 dipaksa pensiun dini.
Jadi, sejak CentOS 8 pensiun, siapapun yang bertanya, “server apa yang stabil dan aman?” Rekomendasinya pasti nggak jauh-jauh dari Debian, dengan segambreng upvote tentunya.
Bagaimana dengan Ubuntu?
Hmmm... Meskipun relatif populer di mata pengguna, tapi harus diakui kalau server-server lain seperti Ubuntu, AlmaLinux, Rocky, dan kawan-kawan masih harus mengakui keunggulan Debian.
Fenomena ini nggak cuma terjadi di luar negeri, tapi juga di negara kita sendiri, Indonesia. Banyak admin yang dulunya nyaman di CentOS 7 atau 8, sekarang ramai-ramai bermigrasi ke distro lain.
Ada yang pindah ke Alma atau Rocky karena alasan RHEL. Tapi, nggak sedikit juga yang melompat brutal ke Debian atau Ubuntu. Termasuk saya. Hehehe...
Alasannya sederhana. Karena Debian dianggap salah satu server paling stabil saat ini. Nggak cuma katanya, tapi benar-benar nyata dan sudah dibuktikan oleh banyak orang di lapangan. Terutama untuk server yang diwajibkan buat nyala selama berbulan-bulan, atau bahkan mungkin bertahun-tahun.
Bisa dibilang, fakta di lapangan menunjukkan bahwa Debian adalah salah satu server yang paling jarang drama. Server Debian itu tipe server yang kalau error, kemungkinan besar disebabkan oleh kesalahan manusia, bukan OS-nya.
Hal lain yang bikin Debian disukai adalah image-nya yang selalu rilis lebih cepat dibandingkan dengan server alternatif seperti AlmaLinux misalnya.
Kalau boleh saya berbicara agak sentimen sedikit. Nungguin image AlmaLinux itu... Sumpah.! kayak nungguin THR cair coy. Munculnya setahun sekali.
Selain beberapa alasan yang sudah saya sebutin tadi, Debian juga disukai dan sering direkomendasikan karena gratis, open source, dan filosofinya jelas.
Kalaupun ada perubahan biasanya nggak drastis. Perubahannya itu relatif minimalis. Tapi ini justru disukai, karena nggak bikin kita jadi kebingungan setiap kali ada upgrade.
Versi paketnya memang terasa agak “tua,” tapi lagi-lagi, justru itu yang bikin server Debian punya keamanan yang kokoh.
Jadi ya... kalau kalian sedang mencari server yang cocok untuk belajar ataupun server profesional, saran saya, pakai Debian aja.
BTW, kalau kalian tertarik memakai server Debian berikut adalah beberapa hal yang perlu kalian persiapkan.
Persiapan Sebelum Menggunakan Debian Server
Sebelum instalasi, ada beberapa hal yang wajib disiapkan, terutama kalau kamu adalah pengguna server di Indonesia, dengan realita internet yang naik-turun seperti Fluffy Bird.
Pertama, kamu harus menentukan tujuan kamu mebangun server buat apa? Apa... mau buat web server? VPS pribadi? VPN? Atau cuma buat eksperimen atau belajar?
Kenapa kita perlu menjawab pertanyaan ini dulu? Simple! Karena ini berkaitan langsung dengan paket yang akan kita pasang dan seberapa ketat security-nya.
Kedua, jangan cuma “asal ada internet.” Kalau memungkinkan, sediakan akses jaringan yang stabil. Menginstall debian memang bisa offline, tapi update dan setup awal biasanya pasti butuh internet biar lebih mantap.
Ketiga, kamu harus paham dasar-dasar CLI. Debian Server itu minim GUI. Kalau kamu alergi sama terminal, sebaiknya siapin mental dulu. Hehehe. Bukan nakut-nakutin lho ya...
Keempat, kamu kudu ngerti IP Address dan topologi jaringan. Entah pakai DHCP atau static IP? Bagian yang keempat ini perlu diperhatikan karena, banyak pemula justru kejebak di sini.
Cara Install Debian Server
Menginstal Debian Server sebenarnya nggak seseram kelihatannya. Kamu bisa pilih netinst ISO, boot, lalu ikuti wizard.
Catat ya!
- Pilih SSH Server saat task selection. Ini penting.
- Jangan install Desktop Environment kalau mau beneran membangun server.
- Atur user non-root sejak awal.
Di Indonesia, sering terjadi installer gagal download mirror karena DNS atau routing ISP. Solusinya, pilih mirror lokal atau ganti DNS setelah menginstall.
Beberapa Kendala yang Umum Dihadapi Pemula saat Konfigurasi Debian Server
Meski sebagian besar konfigurasi Debian itu mudah, tapi tetap saja ada beberapa kendala yang kadang dihadapi oleh pemula. Seperti misalnya,
- Server hidup tapi gak bisa diakses
- SSH timeout
- IP berubah setelah reboot
- Lupa command shutdown
Beginner sering mengira Debian “error” padahal cuma salah setting IP atau firewall. Kalau diibaratkan.... Debian itu tak ubahnya seperti motor yang masih pake karburator. Kalau mogok, biasanya cuma karena masalah mekanis dan ngelacaknya gampang.
Hal yang Wajib Disetting Setelah Install Debian Server
1. Cara Connect ke Debian Server dari Windows
![]() |
| Ilustrasi Mengakses Debian Server dari Windows |
Bukan rahasia kalau user di Indonesia mayoritas masih pakai Windows sebagai OS utama. Kalau kamu adalah salah satunya. Kamu nggak harus banting setir ke Linux. Maksud saya. Meski servernya Linux tapi klien bisa kok tetap pakai Windows.
Supaya bisa mengakses Debian Server, kamu bisa pakai PuTTY, Windows Terminal, atau PowerShell. Setahu saya, Windows 10 ke atas sudah mendukung SSH secara default.
Pastikan kamu mengetahui IP address server dan port SSH yang digunakan. Kalau salah IP atau salah port, ya nggak akan bisa masuk.
Intinya, konfigurasi dan memahami SSH di Debian Server itu wajib hukumnya. Tanpa SSH, server yang sudah kamu install tak ubahnya seperti patung Agnez di Madame Tussauds.
2. Cara SSH ke Debian Server
Perintah dasarnya:
ssh user@ip-server
Kalau pakai port custom:
ssh -p 2222 user@ip-server
Biasakan login pakai user biasa, bukan root lho ya.
3. Masalah “Can’t Access via SSH After Changing Port”
![]() |
| Ilustrasi SSH Server |
Ini jebakan Batman yang dengan pemula sebagai sasaran favorit. Hehehe...
Biasanya penyebabnya:
- Port baru belum dibuka di firewall
- SSH service belum restart
- Salah edit
/etc/ssh/sshd_config
Solusi paling aman:
- Buka port baru di firewall
- Restart SSH
- Jangan logout sebelum tes port baru
Banyak server di Indonesia “tiba-tiba hilang” gara-gara satu langkah ini.
4. Cara Konfigurasi IP di Debian
Debian umumnya pakai NetworkManager atau systemd-networkd.
IP statis itu wajib kalau untuk server. Kalau nggak, tiap reboot, IP bisa berubah dan bakal bikin kamu panik sendiri.
Realitanya, banyak VPS lokal pakai satu IP publik. Kalau sampai salah setting IP, alamat... server bakal jadi “makhluk gaib” hehehe.
5. Tips Mengamankan Server Debian
Berikut adalah beberapa hal yang perlu kalian lakukan untuk membuat server Debian jadi lebih aman.
- Disable root login via SSH
- Ganti port SSH (tapi ingat firewall!)
- Install
ufwatauiptables - Update rutin
- Gunakan SSH key
Server di Indonesia sering jadi target brute force. Bahkan server buat “belajar” pun gak luput. So, be aware and keep your eyes open!
6. Cara Shutdown Debian Server
Kelihatannya sepele, tapi percaya nggak percaya, “Ini matinya gimana ya?” adalah salah satu pertanyaan yang paling sering ditanyakan oleh pemula setelah selesai mengutak-atik server.
Untuk mematikan Debian Server dengan benar itu, sebenarnya cukup mudah. Kalian bisa memakai perintah:
shutdown now
Atau alternatif yang lebih singkat,
poweroff
Keduanya sama-sama aman dan resmi. Yang perlu diingat, jangan asal reboot ketika masih ada proses penting berjalan. Misalnya pas lagi backup, update, atau migrasi data.
Karena server beda sama laptop pribadi yang bisa dimatikan lalu nyalakan lagi sambil berharap semuanya baik-baik saja.
Ingat ya! Di dunia server, mematikan sistem itu bukan soal cepat, tapi soal tepat. Meski kelihatannya sepele, tapi itu penting banget ya guys.
Lastly... Admin Server Profesional Masih Setia Pakai Debian Karena Debian Adalah Salah Satu Server Gratis Terbaik
Server Debian bukan Distro Linux yang tampilannya sok heboh. UI-nya nggak yang model sok pamer fitur gitu... Nggak keliatan hype. Tapi justru di situlah keunggulannya.
Bagi saya ini adalah salah satu server terbaik yang cocok dengan kondisi di Indonesia yang koneksinya pas-pasan. Juga cocok kalau mau dibuat jadi server dengan jam kerja yang panjang, dan stabil pastinya. Sepele, tapi itu semua bisa bikin kita bisa tidur lebih nyenyak.
Setelah instalasi, setting dasar seperti SSH, IP, dan security bukan sekadar formalitas. Itu hal-hal mendasar yang justru bersifat esensial menurut saya. Kalau di dunia server, pondasi yang kuat jauh lebih penting daripada tampilan wah. Cih... bahasanya jooo....
Kesimpulannya guys... Kalau kalian mau nyari server yang mudah dipelajari, stabil, ringan, makenya gampang, gratis, menyediakan repositori perangkat lunak yang luas, andal, punya keamanan yang luar biasa, dan ngasih sumber terbuka, kalian wajib mempertimbangkan Debian.
Menurut saya, berbagai kriteria tadi itulah yang bikin server Debian sebagai salah satu server paling ideal untuk penerapan produksi jangka panjang yang efisien (sumber daya) di berbagai perangkat keras.



Posting Komentar untuk "Kenapa Admin Server Profesional Masih Setia Pakai Debian di 2026?"