Review Pengalaman Install Pop!_OS Linux by System76

Beberapa bulan terakhir ini saya beralih dari Linux distro favorit saya (Elementary OS) ke Pop!_OS, dan saya cukup menikmatinya. Namun tidak langsung menggunakan PopOS. Awalnya saya justru terlebih dahulu mencoba Ubuntu 20.04.

Review Pop!_OS 20.04
Review Pop!_OS 20.04

Awal ketertarikan saya pada Ubuntu 20.04 dimulai dari artikel yang menyebutkan bahwa sistem operasi ini sudah mengalami banyak perubahan dan jauh lebih ringan atau lebih cepat dibandingkan dengan Ubuntu 19.04 LTS. Hal itulah yang membuat saya cukup penasaran dan ingin mencoba, disamping kepincut dengan icons barunya yang kelihatan lebih keren.

Setelah mencoba menginstal sendiri. User experience yang saya rasakan memang tidak jauh dari apa yang digambarkan pada artikel yang pernah saya baca. Ubuntu jauh lebih cepat dibandingkan dengan versi sebelumnya atau bisa dikatakan jauh lebih ringan untuk dijalankan di laptop saya yang notabene-nya lumayan jadul dan tidak terlalu powerful, karena hanya menggunakan processor Intel Core i3 4030U @1.9GHz dengan RAM 4GB.

Meski pada akhirnya saya meninggalkan Ubuntu, tapi saya cukup terkesan dengan pengalaman menggunakan versi 20.04 yang menurut saya jauh lebih menyenangkan karena terasa sangat ringan dan cepat dibandingkan versi 19.04.

Namun pada akhirnya saya juga meninggalkan Ubuntu dan menggantinya dengan Pop!_OS by System76.

Mengapa saya meninggalkan Ubuntu dan menggunakan Pop OS?

Satu-satunya alasan saya meninggalkan Ubuntu adalah karena, waktu booting yang sangat lama. Saya sendiri sudah mencoba mencari beberapa solusi dengan membaca di beberapa forum. Dan saya dapati bahwa masalah ini (booting lama) tidak hanya saya alami sendiri, tapi banyak juga user di luar sana yang mengalaminya.

Sayangnya, tidak satupun solusi yang saya temukan bisa mengatasi masalah yang saya hadapi saat menggunakan Ubuntu 20.04. Karena itulah, saya memutuskan untuk mencari sistem operasi lain yang setidaknya basis Ubuntu 20.4. Dan, saya menemukan OS merupakan salah satu yang sangat direkomendasikan. Beberapa waktu belakangan, sistem operasi ini juga mulai naik daun dan banyak digunakan.

Tanpa pikir panjang, saya mendownload PopOS dan kemudian menginstal serta mencoba sistem operasi berbasis Ubuntu 20.04 ini. For the record, hingga tulisan ini saya buat, saya masih menggunakan Pop!_OS. Saya merasa, ini adalah salah satu sistem operasi berbasis Linux yang paling menyenangkan yang pernah saya coba. Meski demikian, ada beberapa hal yang saya sebut sebagai kekurangan Pop!_OS berdasarkan pengalaman meng-install dan menggunakan OS ini di laptop jadul saya. Apa saja kelebihan dan kekurangan Pop!_OS?

Review Pop!_OS based on Ubuntu 20.04

Selama menggunakan sistem operasi yang dibuat oleh System76 ini, secara keseluruhan saya sangat puas dengan kemudahan yang mereka tawarkan. Yang saya maksudkan dengan "kemudahan" adalah, kita bisa langsung perform dengan menggunakan OS ini tanpa harus melakukan banyak perbaikan di sana-sini.

Karena berdasarkan pengalaman menggunakan beberapa Distro Linux sebelumnya. Saya kerap mendapati berbagai masalah, yang meskipun solusinya sangat banyak tersedia, tapi tetap saja butuh waktu yang tidak sedikit untuk memperbaikinya--karena tidak semua solusi tersebut bekerja dengan baik.

Beberapa contoh masalah yang kerap saya temukan ketika menginstal distro baru diantaranya adalah Wi-Fi tidak connect, Bluetooth bertingkah aneh, baterai boros, brightness setting macet, aplikasi Wine tidak tampil seperti yang seharusnya, dan lain sebagainya. Berbagai masalah tersebut hampir tidak saya jumpai ketika menggunakan distro Linux Pop!_OS yang berbasis Ubuntu 20.04.

Begitu juga dengan berbagai software yang saya butuhkan untuk bekerja, hampir semuanya dapat berjalan dengan sangat baik. Meskipun ada beberapa software yang saya rasa berubah jadi agak lambat. Mengenai kekurangan-kekurangan PopOS tersebut akan saya bahas pada bagian akhir artikel ini.

Kelebihan Pop!_OS: User Interface (Tampilan)

Sepintas, tampilan antara Ubuntu dengan Pop OS tampak serupa dan tidak mengalami perubahan yang signifikan, seperti yang kita temukan pada distro berbasis Ubuntu lainnya semisal ElementaryOS atau LinuxMint. Cara OS ini menampilkan menu serupa dengan apa yang ada pada Ubuntu. Begitu juga dengan side dock-(nya) yang disebut "Dash." Lalu apa yang membedakan kedua distro tersebut?

Perbedaan paling mencolok terletak pada ikon yang digunakan. Saya pribadi lebih suka ikon baru pada Ubuntu yang bernama "Yaru" karena icon ini terlihat sangat modern. Warnanya cocok digunakan pada light ataupun dark theme.

Yaru Icon Ubuntu 20.04
Yaru Icon Ubuntu 20.04
 
Perbedaan kedua terletak pada Extension dimana Pop OS secara default membawa Pop Shell. Extension Pop Shell ini saya anggap sebagai kelebihan Pop OS yang pertama. Fungsi extension ini adalah untuk mengatur (titles) jendela aplikasi secara otomatis. Sehingga kita tidak perlu repot mengatur atau meletakkan setiap jendela side by side ataupun secara tiling.

Pop Shell Tiling Extension
Pop Shell Tiling Extension

Ketiga, System76 Power Management. Saya percaya bahwa salah satu tujuan System76 Power Management adalah untuk:

  • Meningkatkan fleksibilitas dan utilitas antarmuka agar lebih mudah untuk digunakan
  • Menyederhanakan penggunaan atau mencegah agar tidak rumit bagi orang awam sekalipun
  • Mencegah kontrol yang tumpang tindih, serta
  • Memberikan fleksibilitas (penggunaan) daya (baterai) untuk menyesuaikan dengan kebutuhan.

Keempat, Wine ataupun aplikasi PlayOnLinux berjalan dengan sangat baik, begitu juga dengan jendela aplikasi yang tampil seperti yang diharapkan. Saya memang secara khusus menyebutkan jendela aplikasi Play on Linux karena, pengalaman saya ketika menggunakan Elementary OS, aplikasi Play on Linux tidak tampil seperti apa yang saya harapkan. Saya kesulitan untuk mengklik atau melihat menu ataupun beberapa informasi yang saya butuhkan saat menggunakan PlayOnLinux di Elementary OS.

Kekurangan Pop!_OS

Perlu saya tekankan bahwa berbagai kekurangan atau kelemahan Pop!_OS yang akan saya ungkapkan di bawah ini bersifat subjektif. Sehingga, apa yang akan saya katakan bisa saja berbeda dengan apa yang dikatakan oleh orang lain.

Start Menu

PopOS Start Menu
PopOS Start Menu

Membuka aplikasi di pop OS membutuhkan dua atau tiga kali langkah/klik karena Dash tersembunyi secara default dan mengharuskan kita untuk mengklik:
  1. Tombol Activities untuk memunculkan Dash, kemudian
  2. Klik tombol Show Applications untuk menampilkan semua aplikasi yang ter-install, dan
  3. Klik icon untuk menjalankan aplikasi
Karena membutuhkan jumlah klik yang terlalu banyak, saya cenderung lebih suka jika Dash pada Pop OS mempertahankan Dash seperti yang digunakan pada Ubuntu. Untuk mengatasi masalah ini sebenarnya tidak terlalu sulit. Kita hanya perlu menginstall extension yang disebut Dash to Dock on Pop!_OS.

Beberapa aplikasi tidak berjalan sempurna

Openshot Video Editor merupakan salah satu aplikasi yang lumayan sering saya gunakan. Pengalaman pertama menginstal aplikasi ini di Pop! OS tidak berakhir mengesankan.

Pertama kali, saya mencoba menginstal Openshot melalui Pop!_Shop menggunakan file Deb. Setelah terinstall dan dijalankan, aplikasi ini ternyata lebih sering mengalami hang. Bahkan ketika saya gunakan untuk mengedit video dengan resolusi rendah dan durasi yang tidak terlalu panjang.

Karena pengalaman tersebut, saya menghapus aplikasi tersebut kemudian mencoba menginstalnya kembali masih melalui Pop!_Shop, namun kali ini dengan memilih tipe file (flatpak) yang berbeda. Sayangnya, pengalaman serupa (seperti yang saya alami sebelumnya) kembali terjadi.

Install Openshot Flatpak
Install Openshot Flatpak 

Tidak menyerah, saya mencoba metode lain. Yaitu cara klasik dengan menginstal aplikasi melalui terminal tanpa tambahan PPA. Hasilnya, Openshot Video Editor bisa berjalan dengan lebih baik.

Meski bisa berjalan lebih baik, namun saya merasa performa aplikasi ini jauh lebih baik ketika saya install di Elementary OS yang berbasis Ubuntu 19.04.

Metode instalasi yang tidak user friendly

Cara menginstal Ubuntu, Elementary OS, atau Linux Mint serupa dan menawarkan metode yang sangat mudah dipahami oleh orang awam, meski di sana juga terdapat opsi untuk menginstal secara manual. Sayangnya, hal ini tidak saya jumpai ketika menginstal Pop!_OS, di mana saya harus memilih metode Clean Install (yang berarti menghapus semua OS yang pernah saya install) atau menginstal secara manual agar bisa menggunakan single/dual boot.

Kekurangan Pop!_OS ini bisa menjadi kendala tersendiri bagi para pemula yang ingin mencoba meng-install salah satu Distro Linux terbaik ini.

Meski terdengar agak menyulitkan namun, tidak akan ada sesuatu yang sulit apabila kita mau mempelajarinya. Kalau kamu meluangkan sedikit waktu, insyaallah kamu (akan) bisa dengan mudah menemukan (panduan) cara Install Linux PopOS di luar sana, yang apabila langkah-langkahnya diikuti dengan benar--akan memberikan hasil sesuai dengan yang diharapkan.





Komentar