Catatan Seorang Ayah Freelancer Tentang PP Tunas 2026
Sebagai seseorang yang sudah makan asam garam di dunia digital—mulai dari zaman internet masih menggunakan modem bunyi ngik-ngok sampai sekarang cari nafkah sebagai freelancer dan blogger—saya tahu bertahan betapa indahnya sekaligus ngerinya isi perut internet. Bagi saya, layar monitor adalah kantor, tetapi bagi anak-anak saya, layar itu bisa jadi pintu masuk ke labirin yang belum saatnya mereka menjelajah.
Membaca berita tentang Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 alias PP Tunas yang akan berlaku penuh 28 Maret 2026 nanti, rasanya seperti mendapat napas segar di tengah polusi konten. Pemerintah lewat Komdigi akhirnya menetapkan: batasi media sosial buat anak di bawah 16 tahun. Sejujurnya, sebagai orang yang setiap hari bergelut dengan aset digital, saya merasa kebijakan ini bukan hanya soal aturan birokrasi, tapi soal kewarasan generasi.
Angka yang Bikin Monitor Saya Terasa Panas
Menteri Meutya Hafid menyebutkan data yang dibuat saya—seorang praktisi digital—terasa sangat horor. Ada 229 juta pengguna internet di Indonesia, dan hampir 80%-nya adalah anak-anak. Oke, anak-anak kita memang digital native , tapi apakah digital mereka aman ?
Data UNICEF menyebutkan 50% anak Indonesia terpapar konten seksual. Belum lagi 1,45 juta kasus eksploitasi anak secara berani. Sebagai ayah dari dua jagoan, angka ini bukan sekadar statistik di atas kertas kerja saya. Ini ancaman nyata. Kita, para orang tua, sering kali terlalu sibuk memastikan koneksi internet kencang, tapi lupa memasang pagar yang cukup tinggi untuk melindungi mereka dari predator dan konten yang merusak mental.
Kurikulum Gadget di Rumah Freelancer
Di rumah, saya dan istri—yang juga sesama pejuang freelance —punya aturan utama yang saklek soal teknologi. Kami tahu betapa jahatnya algoritma yang dirancang untuk membuat kecanduan. Maka, sejak awal kami sudah mengenalkan apa itu screen time . Kami bukan melarang internet, tapi kami mengatur jam tayangnya.
"Abi kan bekerja di depan laptop terus, kok aku cuma boleh sebentar?"
Pertanyaan kritis khas anak zaman sekarang. Saya jelaskan ke mereka, laptop Abi itu alat kerja, kayak cangkul buat petani. Sementara media sosial, bagi anak seusia mereka, lebih banyak risikonya daripada manfaatnya.
Saya sangat memperhatikan kesehatan mata mereka—jangan sampai di usia pertumbuhan, otot mata mereka sudah dipaksa bekerja keras, memancarkan radiasi layar tanpa henti. Lebih dari itu, saya melindungi mental mereka.
Sampai hari ini, anak-anak saya belum punya akun Instagram atau TikTok. Mereka tidak pernah membuka aplikasi itu tanpa pengawasan kami. Bukannya kuper, tapi saya ingin mereka mengenal dunia nyata dulu sebelum terjun ke dunia maya yang penuh kepalsuan. Saya ingin mereka tahu rasanya utama di tanah, bukan hanya menggeser-geser layar.
PP Tunas: Mendukung Hukum Buat Orang Tua
Satu hal yang saya apresiasi dari PP Tunas ini adalah fokus sanksinya. Bukan buat kita sebagai orang tua atau buat si anak, tapi buat platform digitalnya. Ibu Meutya dengan tegas mengatakan, platform harus bertanggung jawab. Kalau mereka tidak bisa menyaring pengguna di bawah 16 tahun untuk layanan berisiko tinggi, mereka yang kena semprot hukum.
Ini langkah besar. Sebagai orang yang paham cara kerja sistem elektronik, saya tahu verifikasi usia itu sebenarnya bisa dilakukan kalau platformnya mau niat. Dengan adanya aturan ini, tugas saya sebagai ayah jadi sedikit lebih ringan. Sekarang saya punya alasan kuat kalau anak-anak mulai protes: Ini aturan negara, Nak. Gunanya buat jagain kamu dari orang jahat di internet.
Antara Adiksi dan Masa Depan
Banyak orang tua yang bangga kalau anaknya pintar HP utama sejak balita. Padahal, bagi saya yang paham dunia digital, itu alarm bahaya. Adiksi digital itu nyata. Dopamin yang dipicu oleh like dan video singkat bisa membuat anak sulit fokus dan mudah cemas. Belum lagi risiko kejahatan siber seperti cyberbullying atau penipuan yang semakin canggih.
Melalui PP Tunas, pemerintah menunda akses ke platform berisiko tinggi sampai usia 16 tahun. Menurut saya, itu usia yang cukup ideal di mana anak mulai punya nalar untuk membedakan mana yang fakta dan mana yang gorengan netizen.
Penutup, Warisan Kita Bukan Gadget, Tapi Karakter
Pekerjaan saya sebagai freelancer mungkin membuat saya terlihat familiar dengan teknologi 24 jam, tapi di meja makan, teknologi harus mengalah. Saya ingin anak-anak saya tumbuh dengan mata yang sehat untuk melihat indahnya dunia, dan mental yang kuat untuk menghadapi realita, bukan sekadar mencari validasi dari orang asing di kolom komentar.
PP Tunas adalah pengingat bagi kita semua bahwa ruang publik digital itu bukan tempat bermain anak tanpa pengawasan. Mari kita dukung implementasi penuhnya pada Maret 2026 nanti. Sambil menunggu itu, tugas kita di rumah tetap sama: jadilah benteng pertama buat anak-anak kita.
Jangan sampai kita sibuk membangun aset digital, tapi lupa membangun karakter anak-anak yang akan mewarisi masa depan. Karena pada akhirnya, sehebat apa pun teknologi yang kita punya, tidak akan ada yang bisa menggantikan kehadiran dan pelindung nyata seorang ayah di sisi mereka.

Posting Komentar untuk "Catatan Seorang Ayah Freelancer Tentang PP Tunas 2026"