Mata SePeLe Hampir Membuatku Kehilangan Detik-Detik Terindah Bersama Anak
“Ada momen yang hanya berlangsung beberapa menit, tetapi tetapi kenangan yang tersimpan di dalamnya bertahan selamanya”
Kalimat itu baru benar-benar saya pahami ketika anak kedua saya, yang baru berusia delapan tahun, berdiri di atas panggung sederhana di balai desa.
Di hadapannya ada meja juri dan ratusan pasang mata. Di kursi tamu, saya dan istri hanya bisa saling menatap, berharap semuanya berjalan lancar.
Padahal kalau dipikir-pikir, penampilannya mungkin tak lebih dari lima menit saja.
Lima menit!
Sesingkat waktu merebus mie instan.
Namun, bagi kami, lima menit itu terasa jauh lebih panjang. Ada proses berbulan-bulan yang mengantarkannya sampai ke atas panggung. Ada rasa khawatir, bangga, haru, dan doa yang bercampur aduk menjadi satu.
Apalagi ini bukan sekadar lomba biasa. Ini adalah pengalaman pertama yang sangat menentukan mental anak kami kedepannya.
Ceritanya begini...
Dalam rangka menyambut Tahun Baru Islam (1 Muharram), remaja desa di tempat tinggal kami mengadakan berbagai lomba keagamaan untuk anak-anak dan remaja. Mulai dari lomba adzan, tahfiz, dan tartil Al-Qur'an.
Putra kedua saya mengikuti tiga cabang lomba sekaligus.
Adzan, tahfiz, dan tartil.
Jujur aja, saya sendiri sempat kepikiran, “Apa nggak terlalu banyak untuk pengalaman pertamanya?”
Tapi setelah berdiskusi dengan istri, kami sepakat bahwa target kami bukan mengejar piala.
Kami hanya ingin memberikannya pengalaman.
Karena pengalaman sering kali menjadi guru yang jauh lebih baik daripada seribu nasihat.
Tapi ada satu momen yang tidak saya duga dan hampir merusak seluruh proses itu. Bukan karena sibuk memotret, bukan pula karena terlalu gugup.
Melainkan karena mata saya mulai terasa sepet dan perih. Tepat di momen yang paling ingin saya nikmati bersama anak.
Untungnya, saya segera mencari cara untuk mengatasinya sehingga masih bisa menyaksikan setiap detik penampilan buah hati kami dengan lebih nyaman.
Tentang itu, nanti saya ceritakan lebih lanjut...
Sekarang izinkan saya menceritakan dari awal, kisah pengalaman membersamai anak mengikuti lomba keagamaan menyambut Tahun Baru Islam 1448 H di desa kami.
Semua Berawal dari Kebiasaan Kecil yang Kami Pupuk Sejak Usia Dini
Kalau ada yang bertanya, “Kapan anaknya mulai diajarkan mengenal huruf, angka, dan hijaiyah?”
Jawaban saya mungkin terdengar sedikit mengejutkan.
“Sejak usia dua tahun.”
Tapi jangan bayangkan suasananya seperti ruang kelas dengan meja belajar lengkap, papan tulis, lalu saya berdiri membawa penggaris.
Bukan! Justru hampir semuanya dilakukan sambil bermain.
Kadang kami belajar mengenal huruf sambil main kartu bergambar. Kadang kami meminta anak membantu menempel stiker abjad di dinding. Atau, mainan-mainan dan kegiatan yang tak pernah diduga anak sebagai media belajar.
Kadang membaca tulisan yang ada di bungkus makanan ringan. Banner warung. Hingga tulisan-tulisan yang kami jumpai di berbagai tempat.
Kadang menghafal huruf hijaiyah sambil berlomba, siapa yang paling cepat menunjuknya.
Sesekali kami berhenti... karena lebih sibuk mengejar bola daripada mengeja huruf.
Dan itu bukan masalah. Karena dunia anak-anak memang dunianya bermain. Tugas orang tua adalah menyisipkan proses belajar di sela-sela permainan itu.
Alhamdulillah, kebiasaan kecil tersebut perlahan membuahkan hasil.
Sebelum masuk TK, anak saya sudah mulai bisa membaca, menulis kalimat sederhana, dan bahkan sudah bisa mengaji serta menghafal Al-Qur’an Juz 30.
Bukan karena mereka anak ajaib. Bukan juga karena kami orang tua yang luar biasa.
Melainkan karena kami percaya bahwa, konsistensi kecil yang dilakukan setiap hari sering kali memberikan hasil yang jauh lebih besar daripada belajar berjam-jam tetapi hanya dilakukan sesekali saja.
Anak Kedua yang Sulit Diajak Belajar Adzan
Meski sama-sama belajar sejak kecil, karakter kedua anak saya ternyata sangat berbeda.
Anak pertama termasuk tipe yang mudah diajak mencoba hal baru. Ketika saya mulai mengenalkan adzan, ia mau belajar sedikit demi sedikit. Walaupun belum sempurna, seenggaknya ada kemauan.
Nah, adiknya berbeda lagi. Kalau sudah nggak mau, ya benar-benar nggak mau. Ia memang agak pemalu sejak kecil.
Meski sudah dibujuk dan diiming-imingi dengan makanan kesukaannya atau bahkan mainan sekalipun. Ia tetap bergeming.
Sudah diberi contoh. Sudah dipancing dengan berbagai cara. Jawabannya tetap sama.
“Nggak mau.”
Kalimat “nggak mau” itu umurnya panjang sekali. Hehehehe. Bisa bertahan berminggu-minggu. Bahkan berbulan-bulan.
Saya memutuskan untuk nggak memaksanya. Meskipun dalam hati kecil, saya ingin mendengarkan anak saya mengumandangkan Adzan. Mengingat dia punya modal suara yang melengking dan berirama meski nggak merdu-merdu amat.
Saya percaya setiap anak memiliki waktunya sendiri. Terlalu memaksa anak belajar ketika ia belum siap, kadang justru membuatnya semakin menjauh.
Karena itu, saya sering mengajaknya datang ke masjid lebih awal, supaya ia bisa mendengarkan muadzin mengumandangkan adzan. Atau, mengajaknya menjawab adzan bersama-sama supaya ia lebih fokus.
Intinya harus sering-sering mendengarkan, karena anak-anak memang sangat cepat merekam apa yang mereka lihat dan apa yang mereka dengar.
Ternyata Lingkungan Bisa Menjadi Guru Terbaik
Sekitar 8 bulan yang lalu, kami memutuskan untuk pindah ke Kalimantan dan tinggal di rumah orang tua saya.
Bukan karena kami nggak memiliki rumah sendiri, melainkan karena kami merasa terpanggil untuk mendampingi kedua orang tua.
Usia mereka sudah tidak muda lagi, sementara kakak dan adik-adik saya tinggal berjauhan, sehingga nggak bisa selalu berada di sisi mereka.
Back to the story...
Ketika sudah mulai tinggal di rumah orang tua, saya menyadari satu hal yang sering kita lewatkan. Ternyata lingkungan mampu mengajarkan sesuatu yang kadang sulit dilakukan oleh kita sebagai orang tua.
Hampir setiap sore, menjelang Magrib, anak-anak berdatangan ke rumah orang tua saya untuk belajar membaca dan mengaji.
Menjelang Magrib, vibes-nya akan sangat berbeda. Suasana yang tadinya lengang, berubah menjadi riuh rendah dengan suara anak-anak. Mulai dari anak usia pra sekolah sampai kelas 6 SD.
Jika tiba waktu Maghrib, anak-anak laki yang sudah bisa adzan akan mengumandangkan Adzan. Bergiliran. Bergantian di waktu Maghrib maupun Isya.
Setelah itu mereka akan belajar Shalat, berjamaah. Dilanjutkan dengan belajar mengaji sampai waktu Isya menjelang.
Di waktu Isya, anak-anak yang sudah bisa mengaji akan bergantian berlatih menjadi imam untuk memantapkan bacaan maupun mental mereka.
Suasana ini berlangsung setiap hari. Hampir tanpa jeda. Kecuali jika hujan, atau ada kegiatan yang nggak bisa ditinggalkan.
Yang menarik perhatian saya justru bukan kegiatan mengajinya. Melainkan, kebiasaan anak-anak dalam mengumandangkan adzan secara bergantian.
Hari ini si A. Besok si B. Lusa si C. Intinya, semua dapat giliran.
Awalnya anak kedua saya hanya duduk memperhatikan. Kadang ikut menirukan pelan-pelan. Lama-kelamaan ia mulai hafal sendiri.
Nggak ada yang menyuruh. Nggak ada yang memaksa. Ia hanya sering mendengar.
Dan ternyata, telinga anak-anak memang seperti spons. Apa yang sering mereka dengar, perlahan akan mereka serap.
Bisa dibilang, hampir semua anak laki-laki bisa (adzan) karena mereka mendengarkan teman-temannya yang sudah terlebih dahulu bisa. Jadi, nggak heran kalau irama adzan mereka semuanya sama.
Setelah sekitar 2 bulan tinggal di rumah orang tua. Suatu sore, saya mendapat surprise.
Sebuah suara yang tak asing terdengar mengalun nyaring dari arah tempat mengaji. Terdengar kumandang suara adzan yang terasa begitu akrab namun asing.
Meski yakin. Tetap saja saya bertanya kepada anak-anak yang kebetulan ada di luar Musholla, “Itu... yang adzan siapa?”
“Zayn!” Jawab mereka serentak.
Tanpa sadar kaki saya melangkah mendekati sumber suara. Ingin memastikan. Melongok ke dalam Musholla untuk meyakinkan diri bahwa itu bukan halusinasi.
Ternyata benar. Anak saya. Ia yang selama ini selalu ogah diajak belajar adzan, kini berdiri di pojok Musholla, menghadap kiblat, sedang berdiri mengumandangkan adzan dengan suara lantang dan penuh percaya diri.
Seolah ini sudah ia lakukan berkali-kali. Tanpa melihat teks. Tanpa dibantu siapa pun.
Tak terasa, seulas senyum tersungging di bibir saya.
Rupanya, kata “nggak mau” yang dulu sering ia ucapkan, bukan berarti ia nggak mau belajar.
Mungkin ia hanya sedang menunggu waktu yang tepat.
Dari Tempat Mengaji ke Masjid
Selepas Isya. Setelah selesai mengaji. Saya menghampirinya. Saya bilang, “Kok adek keren sih!? Sejak kapan bisa adzan?” Tanya saya penasaran.
“Dengar dari mas... Baru nyoba.” Jawabnya polos.
Sejak hari itu, kepercayaan dirinya seperti menemukan pintu yang selama ini tertutup. Ia semakin sering adzan di tempat mengaji meski tak diminta.
Bahkan, ia yang biasanya sering telat mandi sore, kini mandi lebih awal tanpa diminta, lalu bersiap memakai gamis biru kesayangannya.
Saat waktu Maghrib tiba, ia langsung berdiri di pojok Musholla, mengumandangkan adzan dengan nada yang khas. Suaranya melengking nyaring meski tanpa mic.
Selang beberapa hari. Saat kami sedang menunggu waktu Dzuhur, ia tiba-tiba bertanya kepada saya.
“Bi, aku boleh adzan?” Tanyanya setengah berbisik.
“Oh! Boleh... boleh” Jawab saya terburu-buru karena terkejut dengan permintaanya yang tak terduga.
Beberapa detik sebelum running texts menunjukkan waktu Adzan Dzuhur, ia sudah memegang mic. Berdiri rileks dan bersiap mengumandangkan adzannya yang khas.
Itulah kali pertama ia mengumandangkan Adzan di masjid. Tak ada kesan grogi atau gugup. Ia mengumandangkan Adzan dengan penuh percaya diri.
Dari mulut mungilnya terlantun suara adzan. Mengalir lancar seperti sudah ia lakukan puluhan bahkan ratusan kali. Padahal, inilah kali pertama ia melakukannya di masjid, dengan mic di tangan.
Sejak hari itu, masyarakat di desa semakin sering mendengarkan kumandang adzan khas anak saya. Dzuhur. Ashar. Terkadang saat Magrib, dan juga Isya.
Lucunya, semakin sering ia adzan, semakin banyak warga yang penasaran. Dan kadang mengomentarinya di berbagai kesempatan.
“Anak siapa itu yang adzan?”
“Inikah anaknya yang sering adzan di masjid?”
“Kecil-kecil sudah berani adzan.”
Saya yang mendengar komentar-komentar itu hanya bisa tersenyum.
Sebagai orang tua, tentu ada rasa bangga. Tetapi saya juga terus mengingatkan diri sendiri agar tidak ujub. Karena kemampuan anak bukan untuk dibanggakan di depan orang lain. Melainkan untuk terus diasah dan dikembangkan.
Lagipula saya tahu persis, kemampuan adzan anak saya masih jauh dari kata ‘sempurna.’ Masih ada beberapa pelafalan yang perlu diperbaiki. Masih banyak makhraj yang belum tepat. Masih ada bagian-bagian yang seharusnya bisa lebih baik.
Namun bukankah semua orang hebat juga pernah menjadi pemula, kan?
Kehadiran Poster Sederhana yang Mengubah Rencana Liburan
Suatu sore ketika sampai di Masjid untuk shalat Ashar, mata saya tertuju pada sebuah poster yang tertempel di tiang teras masjid.
Warna kertas putihnya cukup mencolok. Kontras dengan warna hijau—cat masjid. Direkatkan dengan lakban hitam.
Tak terlalu besar. Hanya sebuah poster berukuran A4. Tapi judulnya cukup menarik perhatian.
“LOMBA KEAGAMAAN DALAM MENYAMBUT 1 MUHARRAM 1448 H”
Di bawahnya terdapat daftar perlombaan.
- Lomba adzan.
- Lomba Tahfidz Putra & Putri. Dan,
- Lomba Tartil Putra & Putri.
Saya membaca pengumuman itu pelan-pelan.
Lalu tanpa sadar menoleh ke arah anak saya yang menyusul di belakang. Dalam hati saya berkata,
“Kesempatan bagus nih.”
Awalnya saya hanya ingin mendaftarkannya untuk lomba adzan saja. Mengingat, ia sedang semangat-semangatnya untuk adzan.
Anak pertama saya sebenarnya juga berpeluang ikut karena usianya masih 12 tahun. Namun disaat yang sama, ia sudah memiliki agenda liburan ke Lombok bersama kakek, nenek, dan bibinya.
Jadi pilihan kami jatuh kepada adiknya. Anak kedua saya.
Ketika saya ajak ikutan lomba, jawabannya justru di luar dugaan.
“Nggak mau.”
Saya tertawa kecil.
“Kenapa?” Tanya saya penasaran.
“Nggak mau.”
Jawaban itu membuat saya sedikit heran. Bukankah anak ini hampir setiap hari adzan di masjid?
Ternyata tampil di depan jamaah dan tampil dalam sebuah perlombaan adalah dua hal yang berbeda.
Di masjid, ia sudah mengenal sebagian besar orang yang hadir.
Di lomba nanti, ada juri. Ada peserta lain. Ada penonton. Orang-orang asing. Ada penilaian. Ada kemungkinan menang. Ada kemungkinan kalah.
Tapi yang jelas, ia memang belum pernah sekalipun tampil di perlombaan, dan juga belum pernah menonton langsung lomba-lomba keagamaan seperti ini.
Saya nggak langsung membujuknya. Saya hanya mengatakan satu kalimat.
“Ya udah, nggak papa.”
Karena saya tidak ingin membuatnya khawatir atau memaksanya untuk ikut lomba, meski di benak saya, saya sudah menyusun beberapa rencana untuk memaksanya ikut.
Sepulang dari masjid, saya langsung memberi tahu istri saya. Saya bilang...
“Mi, di masjid ada poster lomba adzan. Ada lomba tartil sama tahfiz juga. Untuk anak-anak.”
“Eh, iya tah!? Zayn harus ikut!” Jawab istri saya tanpa basa-basi.
Istri saya memang tak pernah tedeng aling-aling kalau untuk hal-hal yang dianggapnya positif.
“Tapi Zayn nggak mau mi,” ucap saya berpura-pura membela anak.
“Udah ikut aja! Menang nggak menang ikut aja! Nanit umi yang daftarin. Di mana daftarnya?”
“Ada nomor telepon pendaftaran di posternya.”
“Ya udah, nanti kalau ke masjid lagi, abi fotoin.” Perintahnya tegas.
Saya tersenyum lebar.
Anak saya tak sempat membela diri. Tapi ia tidak terlihat panik. Karena sudah terbiasa dengan gaya ceplas-ceplos ummi-nya.
“Pokoknya ikut aja. Nanti ummi suruh yang lain (anak-anak yang mengaji) juga ikut.”
“Tenang aja, kamu (Zayn) sudah punya modal (bisa adzan)” tambahnya meyakinkan sang anak.
Saya pun beranjak, meninggalkan istri saya yang menyemangati si anak.
Di malam hari. Setelah berdiskusi. Kami memutuskan untuk mendaftarkannya, bukan hanya di satu cabang lomba. Melainkan tiga sekaligus.
Adzan. Tahfiz. Dan, tartil.
Bukan karena kami ingin mengejar gelar juara umum. Bukan pula karena merasa anak kami paling hebat.
Kami hanya ingin memberinya satu hal yang nggak bisa diberikan oleh buku pelajaran mana pun.
Yup! Kami ingin ia mendapatkan pengalaman baru, berani mencoba, berani tampil, dan belajar dari pengalaman ini.
Ketika Orang Tua Justru Lebih Sibuk daripada Peserta Lomba
Setelah nama anak kami resmi terdaftar sebagai peserta di tiga cabang lomba, suasana rumah pun berubah.
Kalau biasanya anak saya langsung bermain setelah mengaji dan belajar pagi, kini ada rutinitas baru yang hampir selalu kami lakukan setiap hari. Nggak peduli pagi, siang, atau malam.
“Yuk, latihan dulu.”
Kalimat itu menjadi pembuka kegiatan kami setiap ada kesempatan.
Latihannya, sebenarnya nggak terlalu lama. Paling sekitar lima belas sampai tiga puluh menit.
Saya sengaja nggak membuat sesi latihan yang panjang. Karena saya tau anak-anak cepat bosan. Kalau dipaksa berjam-jam, yang masuk ke kepala bukan ilmu, tetapi rasa jenuh. Dan, mungkin pemberontakan.
Karena itu kami membuat suasana latihan tetap santai. Kadang diawali dengan mengulang hafalan surah untuk lomba tahfiz. Sambung ayat, atau sekedar mendengar murottal dari speaker portable.
Namun anak saya tetap keukeuh dengan pendiriannya. Ia sama sekali enggan berlatih adzan.
Saya dan istri tak bisa memaksanya. Meski sudah kami coba berulang kali, namun hasilnya tetap nihil.
Kami sepakat, untuk tidak terlihat memaksa. Tujuan kami adalah untuk memberinya “pelajaran” berharga.
Bukankah untuk bisa menang, dibutuhkan dedikasi, kegigihan dalam berlatih, dan kedisiplinan?
Jadi, jika ia tidak terpilih sebagai salah satu pemenang lomba, ia tetap akan mendapatkan “manisnya” pengalaman ini.
Sehingga ia akan sadar bahwa kemampuan yang dikuasai, jika tak diasah tak akan banyak berguna. Karena di luar sana, ada anak-anak lain yang lebih giat berlatih, disiplin, sehingga pantas memenangkan lomba. Karena di atas langit masih ada langit.
Hari demi hari kami isi dengan berlatih. Ia yang tadinya hanya mengaji setelah magrib dan setelah subuh, kini mengaji lebih sering.
Di waktu dhuha, sebelum dzuhur, setelah dzuhur. Setelah ashar. Sebelum tidur. Praktis, speaker portable kami nyaris tak pernah istirahat.
“Coba ucapkan huruf ‘ha’-nya di tenggorokan tengah.”
“Mad Wajib-nya masih kurang panjang.”
“Tarik napas mulai.”
Kami bukan juri. Kami juga bukan ustaz yang ahli di bidang qira’ah.
Namun sebagai orang tua, kami berusaha memberikan pendampingan semampu kami.
Kalau ada yang kami ragu, kami langsung membuka referensi dari ponsel. Kadang mencari video ustaz yang menjelaskan makharijul huruf, kadang searching artikel tajwid, kadang membandingkan beberapa contoh bacaan.
Akibatnya, screen time saya pun jadi bertambah. Jadi, selain untuk kebutuhan kerja, saya juga lebih sering melihat layar ponsel untuk mencari referensi dan berbagai pendukung kegiatan kami.
Saya tau mata saya lelah, kadang terasa sepet, kadang perih, karena kebanyakan melihat layar. Tapi demi anak, saya mengabaikannya.
Speaker Portable yang Hadir Disaat yang Tepat
Ada satu benda di rumah yang mendadak menjadi artis. Yup! Apalagi selain, speaker portable.
Awalnya speaker ini cuma dipakai sebagai pengeras suara saat kajian rutin di masjid atau syukuran di rumah-rumah tetangga. Karena memang, kami sengaja membelinya untuk dipinjamkan ke tetangga saat membutuhkan speaker dalam kegiatan keagamaan ataupun sosial.
Menjelang perlombaan, status speaker tersebut naik pangkat. Sekarang ia berubah menjadi “speaker latihan resmi.”
Kami sengaja menyalakan speaker dengan volume 10 persen saja agar tidak mengganggu tetangga, tapi sudah cukup untuk menghadirkan suasana yang mirip seperti di panggung lomba.
Anak saya memegang mikrofon. Saya duduk beberapa meter di depannya. Kadang pura-pura menjadi juri. Kadang pura-pura menjadi MC.
“Peserta dengan nomor tiga dipersilakan naik ke atas panggung.”
Begitu ucapan saya selesai, dia langsung tersenyum lebar dan melangkah masuk ke dalam kamar.
“Assalamualikum warah matulllahi wabarakatuh...” Ucapnya di microphone.
Latihan sederhana seperti itu ternyata cukup membantu. Anak menjadi lebih terbiasa memegang mic.
Ia juga jadi lebih terbiasa mendengar suaranya sendiri keluar dari speaker. Lebih terbiasa berbicara di depan orang lain.
Saya pun baru sadar, ternyata yang sering membuat anak gugup bukan karena ia nggak bisa. Melainkan karena situasinya terasa asing.
Semakin sering suasana itu dilatih, semakin kecil rasa canggungnya.
Adzan Menjadi Cabang Lomba yang Justru Paling Jarang Kami Latih
Sebelumnya, saya sudah mengungkapkan alasan mengapa kami mengambil keputusan tersebut. Mungkin terdengar aneh.
Tapi ya... kami memang nggak terlalu sering berlatih adzan. Boleh dibilang hampir tidak pernah. Jangankan berlatih, membaca teksnya untuk mengetahui makhorijul huruf saja, anak saya merasa enggan, meski sudah saya sodori.
Padahal itulah cabang lomba yang paling ia harapkan untuk dimenangi, sekaligus lomba pertama yang akan dilaksanakan.
Kami tak memaksa, bukan karena kami menganggapnya mudah. Justru sebaliknya. Kami tahu masih banyak bagian yang belum sempurna.
Beberapa pelafalan lafadz adzan masih belum benar. Ada makhraj yang kadang masih tertukar.
Semuanya kami sadari.
Lalu kenapa nggak dipaksa latihan?
Jawabannya sederhana. Karena anak kami terlalu percaya diri.
Kalau diminta latihan adzan, jawabannya hampir selalu sama.
“Udah bisa, bi.”
Kalimat itu diucapkan dengan penuh keyakinan.
Saking yakinnya, kadang saya dan istri saling pandang, lalu tersenyum penuh arti.
Kami tahu dia belum sesempurna yang ia pikirkan. Namun kami juga sadar, rasa percaya diri itu jangan sampai berubah menjadi pematah semangat.
Biarlah pengalaman nanti yang menjadi guru terbaik. Kalau ternyata masih banyak kekurangan, ia akan belajar dari sana.
Kadang pelajaran yang datang dari pengalaman jauh lebih membekas dibanding nasihat yang diulang berkali-kali.
Hari Perlombaan Pun Akhirnya Tiba
Waktu memang aneh. Saat menunggu rasanya lambat. Begitu hari yang ditunggu datang, rasanya justru terlalu cepat.
Sore itu, matahari bersinar cukup terik meski jarum jam sudah menunjukkan pukul tiga. Kami makin kepanasan karena matahari sudah condong ke barat, sehingga atap tenda di atas kepala kami tak lagi berguna.
Balai desa yang biasanya terlihat lengang mendadak berubah ramai. Di halaman, penjual makanan menjamur, dan sepeda motor terparkir sembarangan karena memang tidak ada juru parkir.
Anak-anak mengenakan baju koko, gamis, peci, dan jilbab warna-warni.
Beberapa masih mengulang hafalan sambil berjalan mondar-mandir. Ada yang komat-kamit. Ada yang memejamkan mata. Ada pula yang terlihat kejar-kejaran dan bercanda dengan teman-temannya.
Kalau diperhatikan lebih seksama, justru orang tuanya lah yang terlihat tegang. Saya sempat bercanda kepada istri.
“Kayaknya yang ikut lomba itu orang tuanya deh.”
Istri saya tertawa. “Iya ya... anak-anak malah santai.”
Memang benar.
Kalau dibuat lomba “siapa yang paling banyak menarik napas panjang,” kemungkinan besar pesertanya adalah para ayah dan ibu.
“Nomor Urut Tiga” yang Membuat Kami Nggak Perlu Menunggu Lama
Karena mendaftar cukup awal, anak kami mendapat nomor urut tiga untuk lomba adzan. Nomor tiga juga untuk lomba tahfiz. Sedangkan lomba tartil, dapat nomor empat.
Jujur saja, saya merasa bersyukur karena kami mendaftar lebih awal.
Kalau dapat nomor tiga puluh misalnya, mungkin kami sudah kehabisan energi sebelum anak naik panggung.
Namun setelah anak selesai tampil, kami sepakat untuk tetap tinggal sampai perlombaan selesai.
Bukan karena ingin mencari kelemahan lawan. Melainkan agar anak bisa belajar.
Saya ingin ia memahami bahwa perlombaan bukan hanya tentang “kapan giliran kita?” Tetapi juga tentang belajar dari penampilan orang lain.
Kadang ada peserta yang bacaannya lebih bagus. Ada yang suaranya lebih merdu. Ada pula yang gugup.
Semua bisa menjadi pelajaran.
“Deg-degan Nggak?”
Beberapa menit sebelum dipanggil naik panggung, saya menghampiri anak. Saya berjongkok agar wajah kami sejajar.
“Takut? Deg-degan nggak?” Tanya saya singkat.
Saya kira dia akan menjawab, “Iya.” Atau mungkin, “Dikit.”
Ternyata jawabannya justru membuat saya tertawa.
“Nggak!”
Ekspresinya benar-benar santai. Masih sempat tersenyum. Masih sempat bercanda sama teman-temannya.
Nggak ada wajah tegang. Nggak ada tangan gemetar. Nggak ada bibir yang komat-kamit.
Sebaliknya...
Saya sendiri yang mulai gelisah. Entah sudah berapa kali saya mengecek posisi kamera di ponsel.
Entah sudah berapa kali memastikan baterainya masih penuh. Entah sudah berapa kali membersihkan lensa kamera menggunakan ujung baju. Padahal beberapa menit sebelumnya juga sudah saya lakukan.
Rupanya beginilah rasanya menjadi orang tua. Anaknya tenang. Orang tuanya yang sibuk mencari ketenangan.
Momen yang Hampir Saya Lewatkan
Di tengah menunggu giliran peserta berikutnya, saya menyadari sesuatu. Mata saya terasa berbeda.
Awalnya hanya seperti ada yang mengganjal. Ringan sekali. Saya mengira mungkin hanya karena lelah biasa. Atau, karena terlalu tegang.
Saya berkedip beberapa kali. Lumayan nyaman... Namun nggak lama kemudian rasa itu muncul lagi. Kali ini sedikit lebih mengganggu.
Mata mulai terasa sepet. Saya kucek-kucek lagi. Nggak banyak berubah.
Saya masih menganggapnya sepele.
Dalam hati saya berkata, “Ah... nanti juga hilang.”
Ternyata saya salah.
Semakin sore, rasa sepet itu perlahan berubah menjadi perih. Bukan sakit yang membuat saya meringis. Tetapi cukup membuat saya beberapa kali kehilangan fokus.
Apalagi mata saya tetap harus menatap layar ponsel selama merekam kegiatan agar kamera tidak salah fokus.
Rasa nggak nyaman itu semakin terasa. Saat itulah saya mulai menebak-nebak penyebabnya dan mengingat kembali aktivitas saya beberapa hari belakangan ini.
Sejak anak mendaftar lomba, hampir setiap malam saya tidur larut. Siang saya membantu latihan. Mencari referensi tajwid. Melihat contoh makharijul huruf. Mencari irama tartil. Malanya, saya menulis di PC untuk blog.
Di sela-selanya itu, masih harus mengedit video YouTube, membuat konten TikTok, edit foto, mengoreksi artikel, dan lain-lain.
Kalau dihitung-hitung, mungkin belasan jam dalam sehari saya habiskan di depan layar. Nggak heran kalau mata mulai protes.
Sayangnya, saya baru benar-benar menyadarinya ketika momen penting itu sedang berlangsung.
Dan jujur saja...
Saya mulai khawatir. Karena besok masih ada lomba tahfiz. Lusa masih ada lomba tartil.
Saya nggak ingin rasa sepet, perih, dan lelah ini membuat saya kehilangan kesempatan menikmati setiap penampilan anak.
Padahal inilah momen yang sudah lama kami tunggu-tunggu.
Mengalami Mata Sepet Perih dan Lelah
Malamnya, saya baru benar-benar merasa terganggu dengan mata yang terasa semakin sepet dan perih. Rasa nggak nyaman di mata yang sejak sore saya anggap sepele ternyata nggak kunjung reda.
Jadi, sesampainya di rumah, saya membuka kembali video-video penampilan anak di ponsel. Saya senang mengulang video itu beberapa kali.
Kadang memperhatikan ekspresi wajahnya, kadang mendengarkan kembali suara adzannya, lalu sesekali tersenyum sendiri.
Namun malam itu, belum lima menit menatap layar, mata saya kembali terasa nggak nyaman.
Sepet.
Kemudian sedikit perih.
Lalu mulai terasa lelah.
Saya menutup layar ponsel. Dalam hati saya bergumam,
“Kalau besok seperti ini lagi, bagaimana saya bisa menikmati lomba tahfiz? Besoknya lagi masih ada lomba tartil.”
Saya nggak ingin pengalaman pertama anak mengikuti perlombaan justru saya lalui sambil sibuk mengucek mata.
Ternyata Mata Juga Butuh “Istirahat”
Jujur saja, sebelumnya saya termasuk orang yang jarang memperhatikan kesehatan mata. Kalau badan pegal, saya tahu harus istirahat. Kalau tenggorokan sakit, saya langsung minum air hangat.
Tetapi kalau mata terasa sepet?
Biasanya saya hanya berkedip beberapa kali lalu melanjutkan pekerjaan. Padahal beberapa minggu terakhir, aktivitas saya jauh lebih padat.
Belum lagi saya lebih sering melihat layar ponsel untuk mencari referensi tajwid, memperbaiki makharijul huruf, hingga menonton lomba-lomba tahfidz di Youtube.
Kalau dipikir-pikir, hampir sepanjang hari mata saya berpindah dari satu layar ke layar lainnya. PC. Ponsel. PC lagi. Ponsel lagi.
Rupanya mata juga punya batas kemampuan. Dan ketika batas itu terlampaui, ia mulai memberi sinyal. Sinyalnya bukan lampu merah. Melainkan mata SEpet, PErih, LElah,.
Saran Beli Insto Dry Eyes untuk Meredakan Mata SEpet, PErih, dan LElah dari Google Gemini
Saya bertanya ke AI bukan karena malas nanya ke orang. Saya termasuk orang yang kalau penasaran sama sesuatu, biasanya langsung saya cari tahu.
Karen sudah nggak tahan, saya langsung teriak, “Hei Google, kalau mata kita sepet atau perih karena kelamaan liat hp, pakai obat apa? Yang dijual di Indomaret!”
Saya sengaja menambahkan kata “Indomaret.” Alasannya sederhana. Lokasi rumah cukup jauh dari Apotek.
Trus, kalau harus mencari Apotek malam-malam, rasanya kurang efektif. Soalnya, Apotek-Apotek di daerah tempat tinggal saya sering tutup sesuka mereka meski bukan hari libur atau tanggal merah.
Beberapa saat kemudian, Asisten Gemini di ponsel saya merespon dan memberikan beberapa rekomendasi. Salah satunya adalah “Insto Dry Eyes.”
Mendengar Asisten Gemini di ponsel menyebut “Insto” saya langsung yakin, inilah obat tetes mata yang saya butuhkan untuk meredakan mata Sepet, Perih, dan Lelah yang saya alami.
Sembari mendengarkan penjelasan gemini panjang kali lebar, saya menyambar kunci motor dan jaket. Langsung gas ke Indomaret terdekat.
Kenapa Saya Percaya “Insto Dry Eyes” Adalah Obat Tetes Mata yang Saya Butuhkan?
Buat saya, merek Insto sudah tidak asing. Ini adalah salah satu merek obat tetes mata yang paling sering saya pakai.
Bukan karena sering muncul di iklan, tapi karena emang terkenal ampuh buat mengatasi berbagai masalah gangguan kesehatan mata.
Sesampainya di Indomaret, saya langsung menuju ke bagian rak obat-obatan yang ada di samping kasir.
Saya sudah hafal banget letaknya, karena emang, kalau butuh obat-obat ringan, saya biasanya beli di Indomaret.
Dan untungnya, semua Indomaret (di mana aja) pasti menempatkan obat-obatan di samping kasir. Sehingga, pelanggan bisa langsung menuju ke sana tanpa perlu muter-muter dulu, atau bertanya ke kasir kalau mau beli obat.
Kemasan Insto Dry Eyes cukup mudah dikenali. Kotak biru terang dengan gambar botol kemasan tetes mata di bagian tengah, dan tulisan “insto” yang besar dan tulisan “DRY EYES” dengan huruf kapital yang sangat mencolok.
Harganya juga sangat terjangkau, cuma Rp 17 ribuan. Jadi, buat jaga-jaga, langsung aja beli 2, ya kan?
Ukurannya juga praktis. Mudah diselipin di tas selempang atau di kantong baju.
Sebelum menggunakannya, saya kembali membaca petunjuk yang tertera pada kemasan.
Menurut informasi produk, Insto Dry Eyes mengandung Hydroxypropyl Methylcellulose (HPMC) yang berfungsi sebagai pelumas atau lubricant untuk membantu menjaga kelembaban permukaan mata sehingga membantu meredakan gejala mata kering.
Yang juga membuat saya merasa lebih tenang adalah informasi bahwa Insto Dry Eyes dapat digunakan sesuai petunjuk penggunaan tanpa resep dokter ketika dibutuhkan untuk membantu mengatasi gejala mata kering.
Tentu saja, saya tetap mengikuti aturan pakai yang tercantum pada kemasan dan menjaga kebersihan ujung botol agar nggak menyentuh permukaan mata.
Tanpa babobibebo... Langsung saya buka kemasannya di depan Indomaret. Tetesin insto dry eyes ke mata, dan... perlahan mata mulai terasa nyaman lagi.
Setelah digunakan, botolnya kembali saya tutup rapat dan saya simpan di dalam kantong motor agar mudah dijangkau jika sewaktu-waktu diperlukan.
Benda kecil yang bikin #BebasMataKering itu akhirnya ikut “menonton” perlombaan bersama saya. Hehehe...
Mata Kembali Nyaman, Nonton Lomba Jadi Asyik
Saya nggak mengatakan mata saya langsung terasa luar biasa. Karena memang bukan itu yang saya rasakan. Yang saya rasakan justru jauh lebih sederhana.
Mata terasa lebih nyaman dibanding sebelumnya. Rasa sepet mulai berkurang. Rasa perih yang sejak kemarin cukup mengganggu perlahan mereda.
Yang paling saya syukuri, saya kembali bisa fokus memperhatikan anak-anak yang sedang tampil. Saya bisa merekam momen dengan leluasa tanpa kehilangan fokus.
Bukan hanya anak saya. Tetapi juga peserta lain. Saya bisa kembali menikmati suasana balai desa. Suara riuh tepuk tangan anak-anak yang saling menyemangati. Orang tua yang sibuk mengabadikan momen. Dan sesekali panitia yang mondar-mandir memastikan acara berjalan lancar.
Ada banyak hikmah yang bisa dipetik dari pengalaman ini. Kadang kita terlalu sibuk menjaga baterai ponsel agar nggak habis. Power bank dibawa. Charger dibawa. Kabel cadangan dibawa. Tetapi kita justru sering lupa menjaga “daya tahan” mata kita sendiri.
Padahal, justru mata itulah yang membantu kita menyaksikan dan mengabadikan semua momen berharga.
Kenapa Mata Bisa Terasa Sepet, Perih, dan Lelah? Ternyata Kebiasaan Kita Sendiri Sering Jadi Penyebabnya
Jujurly, awalnya saya mengira rasa sepet yang saya alami sore itu hanya karena kurang tidur aja. Toh, beberapa malam terakhir memang sering begadang karena saya mengalihkan waktu kerja menulis blog dan membuat konten ke malam hari.
Namun setelah saya mencari tahu, ternyata gejala SePeLe (Sepet, Perih, dan Lelah) sering kali berkaitan dengan mata kering (dry eyes).
Kondisi ini terjadi ketika mata kekurangan pelumasan, baik karena produksi air mata yang emang berkurang banyak, atau karena air mata yang menguap terlalu cepat.
Akibatnya, permukaan mata menjadi kurang nyaman sehingga muncul sensasi sepet, perih, seperti kelilipan (pasir), dan menyebabkan mata terasa cepat lelah.
Menariknya, sebagian besar penyebabnya justru sangat dekat dengan kebiasaan kita sehari-hari. Misal,
1. Terlalu Lama Menatap Layar Gadget
Kalau ada kebiasaan yang paling sulit kita hindari, mungkin jawabannya adalah menatap layar.
Bayangin aja. Sejak bangun tidur kita udah mulai mengecek notif, terutama WhatsApp. Sarapan sambil scrolling media sosial.
Bahkan tak jarang kita pakai hp atau laptop buat kerja seharian.
Parahnya, ketika jam istirahat, alih-alih dipakai buat mengistirahatkan mata, kita terkadang sengaja nyuri-nyuri waktu buat scrolling di TikTok, YouTube atau aplikasi lain.
Sorenya sibuk chat. Malam menonton YouTube atau drama sampai lupa waktu.
Saya sendiri juga begitu. Sebagai blogger dan content creator, hampir setiap hari saya berpindah dari layar laptop ke layar ponsel. Belum lagi saat mendampingi anak latihan, saya masih sempat mencari referensi makharijul huruf, tajwid, hingga contoh irama adzan melalui YouTube.
Tanpa sadar, ketika kita terlalu fokus menatap layar, frekuensi berkedip ikut menurun. Padahal berkedip merupakan cara alami mata untuk menyebarkan lapisan air mata agar permukaan mata tetap lembab.
Nah, kalau kita jarang berkedip maka, air mata akan jadi kering karena air mata menguap, sehingga mata menjadi kering dan muncul rasa sepet, perih, maupun lelah.
2. Kurang Tidur karena Aktivitas yang Padat
Saya yakin, saya bukan satu-satunya orang yang suka maksain diri buat kerja over time sampai kurang tidur. Dan, nggak sekali dua kali.
Kurang tidur nggak cuma bisa bikin badan terasa lesu dan otak sulit berkonsentrasi, tetapi juga bisa membuat mata bekerja lebih berat. Mata menjadi terasa lebih cepat lelah, lebih sensitif, bahkan terasa tidak nyaman.
Apalagi kalau setelah begadang, keesokan harinya masih harus beraktivitas penuh seperti saya yang mendampingi anak melakukan persiapan mengikuti perlombaan selama beberapa hari berturut-turut.
3. Terlalu Lama Berada di Ruangan Ber-AC atau Lingkungan Berangin
Banyak orang mengira mata kering hanya mungkin dialami pekerja kantoran di ruang ber-AC. Padahal siapa saja bisa lho mengalaminya.
Kalau kita berada di luar ruangan saat cuaca panas dan berangin juga dapat mempercepat penguapan air mata.
Saat lomba berlangsung, kami memang lebih banyak berada di area terbuka. Angin bertiup lumayan kencang. Mungkin terdengar nyaman, tetapi dalam kondisi tertentu, hal itu juga akan berkontribusi terhadap mata mata kering.
4. Terlalu Fokus pada Satu Titik
Ada satu lagi kebiasaan yang hampir bisa dipastikan pernah lakukan semua orang pas lagi serius.
Kalau lagi mode serius, entah itu pas waktu ngedit video, baca buku, main game, atau nonton sesuatu yang menegangkan, bisa dipastikan mata hanya fokus pada satu titik.
Begitu juga ketika saya menyaksikan anak tampil. Saya hampir tidak mengalihkan pandangan dari panggung.
Saya ingin melihat setiap ekspresi wajahnya. Setiap gerakan. Setiap tarikan nafas sebelum ia mulai mengumandangkan adzan atau melantunkan Al-Qur’an.
Ternyata terlalu lama memusatkan perhatian pada satu objek juga dapat membuat kita berkedip lebih sedikit sehingga mata menjadi cepat lelah.
5. Kurang Minum Air Putih
Kedengarannya sepele, tapi beneran lho... Kurang minum itu ngaruh banget ke mata. Jadi, saat tubuh kekurangan cairan, bukan hanya bibir yang terasa kering. Mata juga bakal ikut kena dampaknya.
Hari pertama perlombaan menjadi pengingat bagi saya. Sejak datang ke lokasi, saya lebih sibuk memastikan anak siap tampil, mengambil gambar, dan berbincang dengan panitia daripada memperhatikan kebutuhan diri sendiri. Bahkan, saya baru nyadar kalau botol minum yang saya bawa masih penuh, ketika acara sudah selesai.
6. Faktor Usia, Kondisi Kesehatan, dan Penggunaan Lensa Kontak
Selain kebiasaan sehari-hari, gejala mata kering juga bisa dipengaruhi oleh faktor lain seperti, bertambahnya usia, penggunaan lensa kontak, konsumsi obat-obatan tertentu, hingga beberapa kondisi kesehatan.
So, buat kalian yang mengalami gejala mata kering, sepet, perih, atau lelah, jangan lupa sedia #InstoDryEyes di rumah.
Trus, kalau tidak kunjung membaik, atau kalau terasa makin berat, atau sering kambuh, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter agar mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang tepat. Intinya, Mata SePeLe jangan disepelein.
Jangan Menunggu Mata “Protes”
Kalau dipikir-pikir, kita sering kali baru peduli ketika mata mulai terasa tidak nyaman. Padahal mata sudah bekerja sejak kita membuka mata di pagi hari hingga kembali terpejam di malam hari.
Mata membantu kita bekerja. Mata membantu kita belajar. Mata membantu kita mencari nafkah. Bahkan mata pula yang membantu saya menyaksikan putra kecil saya berdiri dengan penuh percaya diri di atas panggung.
Karena itulah, sekarang saya mencoba lebih disiplin menjaga kesehatan mata. Saya mulai menerapkan kebiasaan sederhana seperti memberi waktu istirahat pada mata setelah lama menatap layar, lebih sering berkedip, mencukupi kebutuhan cairan, mengurangi penggunaan gawai yang tidak perlu.
Kalau mulai kerasa ada gejala mata kering saya bisanya langsung pakai INSTO DRY EYES sesuai petunjuk penggunaan untuk membantu meredakannya.
Lomba yang Membuat Saya Merasa “Memenangkan” Segalanya
Lomba Tartil menjadi cabang terakhir yang diikuti anak kami. Kalau dua hari sebelumnya saya masih lebih banyak memikirkan hasil penilaian juri, hari ketiga ini rasanya berbeda. Saya hanya ingin menikmati prosesnya.
MC pun mulai memanggil nama peserta pertama. Seorang anak usia 12 tahun. Mungkin baru lulus SD.
Ia tampak berusaha keras menguasai dirinya. Meski bisa melewati pembukaan dengan lancar dan mengawali bacaan Al-Qur’an dengan baik dan suara merdu.
Namun, rasa gugup nampaknya tak terbendung hingga membuat suaranya bergetar hebat dan membuatnya tak mampu menuntaskan ayat.
Namun tekad yang kuat patut diapresiasi. Dengan suara bergetar, ia tetap berusaha memberikan yang terbaik. Ia berusaha membaca Ayat demi Ayat semerdu dan sebaik mungkin.
Saat turun dari panggung, ia langsung menuju tempat duduknya, menangis sesenggukan.
Entahlah. Mungkin ia menyesali penampilannya yang gugup. Atau, menangis karena merasa sudah kalah sebelum turun panggung.
Banyak orang memberinya semangat. Setelah penampilan dari peserta kedua, ia mulai terlihat tenang meski tatapannya masih terlihat kosong.
Saya bersimpati, meski tak bisa berbuat banyak.
Sampai kemudian...
Tibalah penampilan peserta keempat. Anak kami tentu saja. Saya melihatnya berjalan menuju panggung. Mengambil napas. Mengucapkan salam.
Lalu mulai membaca Al-Qur’an dengan suara yang menurut saya jauh lebih tenang dibanding latihan di rumah.
Masih ada kekurangan. Masih ada bagian yang bisa diperbaiki. Namun saya memungkiri bahwa ini adalah momen yang paling saya syukuri.
Terlihat jelas, mentalnya dan rasa percaya diri yang ditunjukkannya sudah jauh meningkat. Begitu pula dengan performanya di atas panggung, sudah jauh melampaui target yang saya bayangkan.
Saya jadi teringat jawaban anak saya waktu pertama kali saya minta buat ikutan lomba.
“Nggak mau.”
Tapi, sekarang? Coba lihat!
Anak yang beberapa minggu lalu berkata “tidak mau” itu... kini duduk dengan tenang di atas panggung. Di depan ratusan pasang mata tanpa terlihat gugup.
Bukankah itu juga layak dianggap sebagai sebuah “kemenangan?”
Harap-harap Cemas di Pengumuman Pemenang Lomba
Malam penutupan lomba akhirnya tiba. Setelah Shalat Isya di Masjid, kami bersama-sama menuju balai desa yang kali ini lebih ramai daripada hari-hari saat lomba.
Anak-anak terlihat lebih santai dibanding saat hari perlombaan. Semua terlihat ceria. Hanya para orang tua yang anaknya ikut lomba saja yang masih terlihat harap-harap cemas menunggu pengumuman pemenang lomba.
Nama-nama juara mulai dibacakan.
Lomba adzan.
Satu persatu, mulai dari juara tiga, juara dua, dan juara satu, diminta untuk naik ke atas panggung.
Nama anak saya tidak disebut. Saya memperhatikan ekspresi anak. Ia tampak serius mendengarkan.
Sampai akhirnya seluruh pemenang turun dari panggung setelah menerima hadiah.
Tiba-tiba ia menoleh ke arah ummi-nya. Dengan wajah polos ia bertanya,
“Mi... kok aku nggak dipanggil?”
Pertanyaan itu sederhana. Tetapi cukup membuat hati saya seperti diremas. Saya bisa merasakan kekecewaannya. Tapi saya berusaha terlihat tegar dengan tersenyum sambil mengusap kepalanya.
“Belum rezeki sampean di Adzan, Nak.”
Ia tampak kecewa. Tatapannya kosong beberapa saat, senyumnya menghilang, dan semangat yang tadi begitu besar seolah ikut runtuh bersama hasil yang tidak sesuai harapan.
Sebagai orang tua, melihat ekspresi seperti itu tentu membuat hati ikut sesak. Rasanya saya ingin mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja, bahwa ia sebenarnya sudah berusaha dengan sangat baik.
Dan menurut saya, perasaan seperti ini sangatlah wajar. Mereka masih belajar memahami bahwa tidak setiap usaha selalu berakhir dengan kemenangan.
Bahkan, kita yang sudah dewasa sekali pun terkdang masih pernah merasakan kecewa ketika harapan tidak menjadi kenyataan, meskipun akhirnya bisa menerima kekalahan dengan lapang dada.
Namun, saya pribadi memilih untuk tidak memandang momen itu sebagai sebuah kekalahan. Justru di sanalah saya melihat sesuatu yang jauh lebih berharga.
Sebaliknya, inilah “minyak” yang kami cari untuk mengobarkan semangatnya supaya ia mau berusaha lebih gigih.
Kekecewaan ini adalah “minyak” yang kami cari untuk mengobarkan semangatnya supaya ia mau berusaha lebih gigih. Yang akan menjaga api semangatnya tetap menyala.
Saya percaya, rasa kecewa yang diolah dengan cara yang tepat akan berubah menjadi tekad yang kuat, membuatnya ingin bangkit, berlatih lebih giat, dan membuktikan kepada dirinya sendiri bahwa ia mampu menjadi lebih baik daripada hari ini.
Intinya, yang bikin anak-anak tumbuh bukan karena ia selalu menang. Mereka tumbuh karena belajar bangkit setiap kali menemui kegagalan. Dan saya berharap, kelak yang paling ia ingat bukanlah hari ketika ia kalah, melainkan hari ketika ia memutuskan untuk tidak menyerah.
Ini juga menjadi pelajaran berharga buatnya, bahwa overconfidence telah membuatnya lengah dan meremehkan orang lain.
Saya dan istri mencoba mengalihkan pembicaraan. Menjelaskan bahwa keberaniannya tampil sudah sangat luar biasa dan membuat kami bangga.
Bahwa tahun depan masih ada kesempatan lagi. Bahwa setiap peserta yang tampil juga sudah berlatih dengan sungguh-sungguh.
Perlahan wajahnya mulai kembali ceria. Nggak lama kemudian, panitia melanjutkan pengumuman cabang lomba berikutnya.
Lomba Tahfidz.
Sama seperti lomba Adzan, nama anak kami tetap absen.
“Aku nggak menang ya mi...” Tanyanya lirih.
“Sabar ya nak, saingan kita persiapannya lebih matang.” Jawab umminya meyakinkan, agar ia terlecut untuk menjadi penantang juara di tahun depan.
Pengumuman pemenang Tartil pun mulai dibacakan. Ini menjadi harapan terakhir kami, meski saya pribadi tak lagi berharap, karena selama berjalannya lomba performa peserta lain tampak bagus-bagus semua.
Juara tiga...
“...diraih oleh...”
“Zayn C. Ismail!”
Kami sempat terdiam beberapa detik.
Seolah memastikan bahwa yang dipanggil memang adalah anak kami.
“Lho... itu aku ya, Bi?” Tiba-tiba suara Zayn menyadarkan kami.
Saya tertawa. Bahagia. Ada perasaan “plong” di hati yang sulit saya gambarkan. Seperti obat ajaib yang bisa menyembuhkan luka seketika.
“Yes... cepat naik.” Tukas saya.
Ia berlari kecil menuju panggung. Kali ini bukan untuk berlomba. Melainkan untuk menerima penghargaan.
Saya segera mengangkat ponsel yang sudah saya siapkan dari sejak awal pengumuman.
Jari saya lincah mencari tombol rekam untuk mengabadikan momen berharga ini.
Kami Pulang Membawa Banyak Pelajaran Berharga
Dalam perjalanan pulang, wajah anak kami terus dihiasi senyum. Sesekali ia memandangi piala kecil yang ada di tangannya, seolah masih belum percaya bahwa itu benar-benar miliknya.
Melihatnya sebahagia itu, hati kami pun ikut dipenuhi rasa syukur. Rasanya, tidak ada kebahagiaan yang lebih besar bagi kami selain melihat anak pulang dengan hati yang penuh percaya diri.
Bagi sebagian orang, peringkat tiga mungkin hanyalah sebuah angka. Namun bagi kami, penghargaan itu terasa begitu istimewa. Ini adalah pengalaman pertamanya mengikuti perlombaan, dan pada kesempatan pertama itu ia berhasil membawa pulang sebuah prestasi. Sebuah momen langka yang akan selalu kami kenang.
Sepanjang perjalanan pulang, pikiran saya sibuk merenung. Bukan tentang piala yang kini ada di tangan anak. Bukan pula tentang hadiah yang berhasil diraih. Yang terus terlintas di benak saya adalah perjalanan panjang di balik pencapaian itu, serta perjalanan yang masih menanti kami di masa depan.
Anehnya, meski “hanya” peringkat ketiga, kebahagiaan yang kami rasakan seolah kamilah juara pertama.
Karena kami tahu betapa besar keberanian yang telah ia kumpulkan untuk berani tampil, berusaha, dan menyelesaikan tantangan sampai akhir.
Setiap kali nama anak kami “aben” dari nama-nama pemenang lomba, saya sempat membayangkan berbagai kemungkinan terburuk.
Saya membayangkan bagaimana jika ia pulang tanpa membawa penghargaan. Mungkin kami harus bekerja ekstra untuk mengembalikan rasa percaya dirinya, menyusun kata-kata yang tepat agar ia tidak merasa gagal, lalu perlahan menumbuhkan kembali semangatnya yang patah.
Namun, penghargaan sederhana itu mengubah banyak hal. Bukan karena pialanya, melainkan karena penghargaan itu menjadi bukti nyata bahwa setiap usaha yang ia lakukan tidak sia-sia.
Itu menjadi bekal berharga untuk menumbuhkan keyakinan dalam dirinya bahwa kerja keras memang pantas diperjuangkan. Dan saya yakin, pengalaman ini akan membuatnya melangkah dengan lebih percaya diri sekaligus lebih gigih menghadapi tantangan-tantangan berikutnya.
Hari itu saya juga belajar bahwa tugas orang tua bukan sekadar mengantarkan anak menuju kemenangan.
Tugas kami adalah mempersiapkan hatinya menghadapi dua kemungkinan sekaligus: ketika ia menang, agar tetap rendah hati; dan ketika ia belum menang, agar tidak kehilangan keberanian untuk kembali mencoba.
Sebab pada akhirnya, bukan kemenangan yang akan membentuk masa depan anak, melainkan keberanian untuk terus bangkit setiap kali kehidupan mengajaknya belajar.
Sejak awal, kami memang sudah mempersiapkan kemungkinan terburuk. Pasalnya, kalau sejak awal anak hanya dibayangi cerita tentang kemenangan, kekecewaan akan terasa jauh lebih berat ketika hasilnya nggak sesuai harapan.
Karena itu, selama masa persiapan saya dan istri kerap mengatakan kepada anak,
“Yang penting berani tampil dulu, soal menang itu bonus.”
“Yang penting berusaha dulu. Kalau adek udah usaha maksimal, abi sama umi sudah merasa senang dan bangga.”
“Kalau menang, alhamdulillah. Kalau belum menang, kita coba lagi tahun depan, Oke!”
“Kalau nanti nggak menang, seenggaknya kita tahu apa yang harus kita perbaiki.”
Kami berharap, kalimat-kalimat sederhana tersebut bisa membantu anak melihat perlombaan sebagai sebuah proses belajar, bukan sekadar berburu piala. Meskipun pada praktiknya anak tidak selalu bisa menerima kekalahan, terlebih jika sejak awal sudah overconfidence.
Jangan Sampai Mata SePeLe Merampas Momen Berharga
Meski perjalanan ini tampaknya berakhir dengan happy ending, namun banyak sekali kejadian yang bisa saya ambil hikmahnya.
Contohnya adalah, kebiasaan yang saya lakukan setiap kali anak tampil. Saya selalu memastikan baterai ponsel penuh. Power bank masuk tas. Memori penyimpanan masih kosong. Karena saya nggak ingin kehilangan momen.
Lucunya, selama ini saya begitu sibuk menjaga ponsel tetap siap digunakan. Tetapi hampir lupa menjaga mata yang menjadi “kamera utama” saya.
Padahal sebaik apa pun kualitas video yang tersimpan di galeri, nggak ada yang bisa menggantikan perasaan melihat langsung anak berdiri di atas panggung dengan penuh percaya diri.
Itulah sebabnya saya kini nggak lagi menganggap remeh gejala mata kering, entah itu, gejala seperti, mata sepet, atau perih, atau lelah. Intinya, #MataSePeLeJanganSepelein.
Tiga gejala yang terlihat sederhana, tetapi bisa mengurangi kenyamanan saat menikmati momen-momen penting.
Bagi saya, menjaga kesehatan mata bukan hanya soal bisa melihat dengan jelas. Lebih dari itu, ini tentang memastikan saya benar-benar hadir.
Hadir menyaksikan anak bertumbuh. Hadir ketika ia mencoba hal baru. Hadir saat ia sukses. Bahkan hadir ketika ia belajar menerima kekalahan.
Karena pada akhirnya, piala mungkin akan berdebu di dalam lemari. Tetapi kenangan melihat anak melangkah dengan berani menuju panggung, senyum di bibirnya saat namanya dipanggil, dan memeluk kami sepulang acara...
...itulah yang akan tetap abadi di hati kami sebagai orang tua.

Posting Komentar untuk "Mata SePeLe Hampir Membuatku Kehilangan Detik-Detik Terindah Bersama Anak"